Analisis Novel Anonymous dengan pendekatan Struktural
Pendekatan struktural adalah suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang cara kerjanya menganalisis unsur-unsur struktur yang membangun karya sastra dari dalam, serta mencari relevansi atau keterkaiatan unsur-unsur tersebut dalam rangka mencapai kebulatan makna.
Tema : Kesunyian membawa kebahagiaan
Alur : maju ( Ibunya gila dan menghilang, Puisi pergi mencari, ketemu kakak tiri dan bapaknya, pulang kampung dan bertemu Ibunya kembali)
Tokoh/penokohan:
- Puisi; puitis, selalu lihat hal positif dari segala keadaan, penyayang ibu, penyayang keluarga, terkadang mengeluh, merindukan kedamaian. Kutipan: " keluarga adalah bendera yang lusuh. Tanpa perang darah tak akan berkibar. Tanpa cinta dan kesetiaan tak akan ada tiang penyangga. Kami melakukan itu untuk menjaga keharmonisan" ;....... " sebenarnya aku malu dengan kegilaan ibuku, tetapi aku tak ingin jadi anak yang durhaka" ;................. " sungguh sial nasibku, kenapa aku tak dilahirkan seperti kakakku? Lahir dengan paras cantik dan memiliki banyak lelaki simpanan yang memberikan kepuasan"; " aku tak ingin merasakan hidup tanpa berbuat apa apa. Aku harus menemukan sebuah pulau dengan beragam warna kehidupan tanpa ada peperangan dan simbol kebencian."
- Ros/kakak perempuan Puisi; cantik, materialistis, suka permainkan lelaki, suka bersenang senang, kejam. Kutipan: "sungguh binal kakakku itu. Namun, ia kejam. Jika para lelaki tidak mau memberikan lipstik, bedak, dan juga celana dalam, kakakku pasti membunuhnya atau menguburnya hidup hidup".
- Ibu: kurang waras ( kutipan: ibuku selalu berjalan tanpa alas kaki, mendaki gunung, bersimedi, mencari kayu bakar, memotong kepala tetangga, mencuri bahkan membakar rumah para pejabat), lemah dalam mencintai, menyalahkan diri sendiri, nekat (kutipan: sebenarnya aku tidak pernah menikah dengan ayahmu, tetapi aku mencintainya lebih dari nyawaku. Kakek dan nenekmu melarangku karena ayahmu seorang bajingan), pendendam, kejam (kutipan: aku hanya ingin suatu hari nanti kau juga menjadi lelaki bajingan agar wanita merasa bangga bersamamu. Mengenai adik-adikku, mereka adalah hasil dari perselingkuhan ayahmu dengan wanita lain. Tapi aku sudah bunuh satu per satu. Aku jadikan lauk makanmu setiap hari).
- Ayah: sopan, pintar, rajin menabung, pendiam (kutipan: pernah suatu ketika ibu bercerita bahwa ia seorang lelaki yang sopan, pintar dan rajin menabung. Namun sedikit pendiam), romantis, suka selingkuh (kutipan: Ayah memang romantis. Meskipun senang mengencani banyak wanita, ia tetap tak ingin kehilangan ibu).
- Lelaki tua: Kurang waras (kutipan: setiap orang menjauh dari lelaki tua itu. Ia menawarkan kursinya untuk diduduki. Tetapi tak ada yang mau duduk dikursinya. Tetapi ia tertawa lebar), cerdas (kutipan: kursi itu sejarah yang terbuat dari gergaji dan mata yang lelah. Orang nyaman ketika duduk di kursi, mencari kursi di bus, rumah, kantor, sekolah, mal, kafe, diskotik, hotel dan dimana. Jika kau berpikir kepala adalah pusat saraf, kau salah. Pantatnya adalah pusat saraf yang paling banyak. Orang akan lemah berpikir ketika ia berdiri apalagi berlari).
- Transmigran miskin: pemberontak, tertindas, miskin (kutipan: Di negeri ini kami tidak memiliki sejarah.... kami seharusnya memiliki warisan dan legenda karena kami sama seperti mereka... kami adalah orang gunung, setiap hari hanya makan ketela dan gandum).
- tentara: kejam (kutipan: tentara menembaki orang miskin, terus menghantam tubuh-tubuh mereka, dan asap-asap menutupi seluruh arena pertempuran itu. Bukan sebuah kebetulan jika para tentara itu menghakimi tanpa ampun. Mereka dituding telah membuat kerusuhan dan membahayakan pemerintah. Mereka adalah pemberontak yang harus dimusnahkan).
- Remaja yg sekarat: penyayang adik, membela yg benar (kutipan: Adikku yg baru berusia 7th dianggap gila oleh ayahku, karena adikku sering melakukan hal aneh. Ia sering berbicara sendirian dan menyebutkan kalimat-kalimat asing tentang surga dan neraka. Bahkan adikku pernah memukul teman bermainnya karena mereka mencuri buah kelapa di kebun Pak Lurah.... Bapakku lalu menyeret dan memasukkan adikku bersama babi-babi peliharaan kami... Aku tak mau adikku dikurung karena dia tidak gila. Dia hanya sedang belajar mengenali dunia lewat kejujuran... Aku ingin adikku mendapat penghidupan dan pendidikan yg layak seperti anak kecil pada umumnya..... Aku membunuh bapakku ketika dia sedang melempar roti ke kandang babi untuk adikku. Dia seperti memberi makan ternak, sungguh tak berprikemanusiaan. Aku ambil cangkul yg berada di gudang lalu kupancung kepalanya. Aku pergi ke gua yg ada di gunung ujung dunia, bertapa selama beberapa tahun dan aku kembali ke dusun untuk menyelamatkan adikku yg masih terkurung namun penduduk dusun mengusirku dan memukuliku sampe sekarang).
- Bocah dalam kandang babi: pembela kebenaran, dianggap gila, disiksa (kutipan: Aku akan merindukan tempat ini [kandang babi], kakak, bapak, ibu dan juga dirimu. Tetapi rindu adalah luka yg menyakitkan jadi aku harus melupakannya. Lebih baik aku mencintai masa depanku).
- Inggit: pelacur, putus asa, (kutipan: Aku menjadi pelacur karena cintaku, tubuhku sudah menjadi potongan-potongan dosa karena cinta sejati... Gele [pacar Inggit] kubunuh tepat pada hari ulang tahunku, tanggal kelahiran yg telah membuat pembatas itu. Aku harus memusnahkan pembatas dalam tubuhku agar aku bisa hidup bebas dan sekaranglah waktunya, tepat di hari kelahiranku).
- ibu penjual ketupat
- Wiwi
- kakek pengemis
- lelaki cermin
Setting/latar
- Rumah
- pulau yg sunyi (kutipan: rupanya memang benar aku akan terdampar di sebuah pulau. Saat ini aku turun dari kapal dan berjalan menuju daratan yang penuh tanah tandus dan burung gagak beterbangan).
- bangunan tempat kuburan (kutipan: aku menatap lurus kedepan, sebuah kuburan paling besar di antara kuburan yang berserakan di luar bangunan ini).
- trotoar, halte ( kutipan: aku melangkah meninggalkan trotoar, meninggalkan suara dan bayangan. Kakiku terhenti di sebuah halte).
- Kandang babi (kutipan: kandang babi yg kotor, penuh babi-babi yg mengoek. Aku melihat seorang bocah sedang bermain kotoran babi, wajahnya tertawa).
- kamar Inggit
- Toko ( kutipan: ini tentang cintaku yg tengah memburu di sebuah toko serba ada-menanti seorang perempuan yg kuidamkan).
- tempat hiburan malam (kutipan: Rupanya aku berada aku berada di lokalisasi dunia malam)
- Rumah Sakit Jiwa (kutipan: Pintu tebal Rumah Sakit Jiwa itu melepaskan tubuhnya ke ujung tumitku).
- Gedung teater (kutipan: langkahku terhenti disebuah gedung teater bercat memudar dan tua).
Gaya bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam Novel Anonymous ini adalah majas perumpamaan, metafora, personifikasi, alegori.
Amanat atau pesan
- membela yang benar
- Menjaga keharmonisan keluarga
- menyayangi orangtua kita bagaimanapun keadaannya