Senin, 23 Mei 2016

Analisis Novel Anonymous karya Nana Sastrawan


Analisis Novel Anonymous dengan pendekatan Struktural
Pendekatan struktural adalah suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang cara kerjanya menganalisis unsur-unsur struktur yang membangun karya sastra dari dalam, serta mencari relevansi atau keterkaiatan unsur-unsur tersebut dalam rangka mencapai kebulatan makna.

Tema :  Kesunyian membawa kebahagiaan
Alur    : maju ( Ibunya gila dan menghilang, Puisi pergi mencari, ketemu kakak tiri dan bapaknya, pulang kampung dan bertemu Ibunya kembali)
Tokoh/penokohan:
- Puisi; puitis, selalu lihat hal positif dari segala keadaan, penyayang ibu, penyayang keluarga, terkadang mengeluh, merindukan kedamaian. Kutipan: " keluarga adalah bendera yang lusuh. Tanpa perang darah tak akan berkibar. Tanpa cinta dan kesetiaan tak akan ada tiang penyangga. Kami melakukan itu untuk menjaga keharmonisan" ;....... " sebenarnya aku malu dengan kegilaan ibuku, tetapi aku tak ingin jadi anak yang durhaka" ;................. " sungguh sial nasibku, kenapa aku tak dilahirkan seperti kakakku? Lahir dengan paras cantik dan memiliki banyak lelaki simpanan yang memberikan kepuasan"; " aku tak ingin merasakan hidup tanpa berbuat apa apa. Aku harus menemukan sebuah pulau dengan beragam warna kehidupan tanpa ada peperangan dan simbol kebencian."
- Ros/kakak perempuan Puisi; cantik,  materialistis, suka permainkan lelaki, suka bersenang senang, kejam. Kutipan: "sungguh binal kakakku itu. Namun, ia kejam. Jika para lelaki tidak mau memberikan lipstik, bedak, dan juga celana dalam, kakakku pasti membunuhnya atau menguburnya hidup hidup".
- Ibu: kurang waras ( kutipan: ibuku selalu berjalan tanpa alas kaki, mendaki gunung, bersimedi, mencari kayu bakar, memotong kepala tetangga, mencuri bahkan membakar rumah para pejabat), lemah dalam mencintai, menyalahkan diri sendiri, nekat (kutipan: sebenarnya aku tidak pernah menikah dengan ayahmu, tetapi aku mencintainya lebih dari nyawaku. Kakek dan nenekmu melarangku karena ayahmu seorang bajingan), pendendam, kejam (kutipan: aku hanya ingin suatu hari nanti kau juga menjadi lelaki bajingan agar wanita merasa bangga bersamamu. Mengenai adik-adikku, mereka adalah hasil dari perselingkuhan ayahmu dengan wanita lain. Tapi aku sudah bunuh satu per satu. Aku jadikan lauk makanmu setiap hari).
- Ayah: sopan, pintar, rajin menabung, pendiam (kutipan: pernah suatu ketika ibu bercerita bahwa ia seorang lelaki yang sopan, pintar dan rajin menabung. Namun sedikit pendiam), romantis, suka selingkuh (kutipan: Ayah memang romantis. Meskipun senang mengencani banyak wanita, ia tetap tak ingin kehilangan ibu).
- Lelaki tua: Kurang waras (kutipan: setiap orang menjauh dari lelaki tua itu. Ia menawarkan kursinya untuk diduduki. Tetapi tak ada yang mau duduk dikursinya. Tetapi ia tertawa lebar), cerdas (kutipan: kursi itu sejarah yang terbuat dari gergaji dan mata yang lelah. Orang nyaman ketika duduk di kursi, mencari kursi di bus, rumah, kantor, sekolah, mal, kafe, diskotik, hotel dan dimana. Jika kau berpikir kepala adalah pusat saraf, kau salah. Pantatnya adalah pusat saraf yang paling banyak. Orang akan lemah berpikir ketika ia berdiri apalagi berlari).
- Transmigran miskin: pemberontak, tertindas, miskin (kutipan: Di negeri ini kami tidak memiliki sejarah.... kami seharusnya memiliki warisan dan legenda karena kami sama seperti mereka... kami adalah orang gunung, setiap hari hanya makan ketela dan gandum).
  - tentara: kejam (kutipan: tentara menembaki orang miskin, terus menghantam tubuh-tubuh mereka, dan asap-asap menutupi seluruh arena pertempuran itu. Bukan sebuah kebetulan jika para tentara itu menghakimi tanpa ampun. Mereka dituding telah membuat kerusuhan dan membahayakan pemerintah. Mereka adalah pemberontak yang harus dimusnahkan).
- Remaja yg sekarat: penyayang adik, membela yg benar (kutipan: Adikku yg baru berusia 7th dianggap gila oleh ayahku, karena adikku sering melakukan hal aneh. Ia sering berbicara sendirian dan menyebutkan kalimat-kalimat asing tentang surga dan neraka. Bahkan adikku pernah memukul teman bermainnya karena mereka mencuri buah kelapa di kebun Pak Lurah....  Bapakku lalu menyeret dan  memasukkan adikku bersama babi-babi peliharaan kami...  Aku tak mau adikku dikurung karena dia tidak gila. Dia hanya sedang belajar mengenali dunia lewat kejujuran... Aku ingin adikku mendapat penghidupan dan pendidikan yg layak seperti anak kecil pada umumnya..... Aku membunuh bapakku ketika dia sedang melempar roti ke kandang babi untuk adikku. Dia seperti memberi makan ternak, sungguh tak berprikemanusiaan. Aku ambil cangkul yg berada di gudang lalu kupancung kepalanya. Aku pergi ke gua yg ada di gunung ujung dunia, bertapa selama beberapa tahun dan aku kembali ke dusun untuk menyelamatkan adikku yg masih terkurung namun penduduk dusun mengusirku dan memukuliku sampe sekarang).
- Bocah dalam kandang babi: pembela kebenaran, dianggap gila, disiksa (kutipan: Aku akan merindukan tempat ini [kandang babi], kakak, bapak, ibu dan juga dirimu. Tetapi rindu adalah luka yg menyakitkan jadi aku harus melupakannya. Lebih baik aku mencintai masa depanku).
- Inggit: pelacur, putus asa, (kutipan: Aku menjadi pelacur karena cintaku, tubuhku sudah menjadi potongan-potongan dosa karena cinta sejati... Gele [pacar Inggit] kubunuh tepat pada hari ulang tahunku, tanggal kelahiran yg telah membuat pembatas itu. Aku harus memusnahkan pembatas dalam tubuhku agar aku bisa hidup bebas dan sekaranglah waktunya, tepat di hari kelahiranku).
- ibu penjual ketupat
- Wiwi
- kakek pengemis
- lelaki cermin
                           
                             
Setting/latar
- Rumah
- pulau yg sunyi (kutipan: rupanya memang benar aku akan terdampar di sebuah pulau. Saat ini aku turun dari kapal dan berjalan menuju daratan yang penuh tanah tandus dan burung gagak beterbangan).
- bangunan tempat kuburan (kutipan: aku menatap lurus kedepan, sebuah kuburan paling besar di antara kuburan yang berserakan di luar bangunan ini).
- trotoar, halte ( kutipan: aku melangkah meninggalkan trotoar, meninggalkan suara dan bayangan. Kakiku terhenti di sebuah halte).
- Kandang babi (kutipan: kandang babi yg kotor, penuh babi-babi yg mengoek. Aku melihat seorang bocah sedang bermain kotoran babi, wajahnya tertawa).
- kamar Inggit
- Toko ( kutipan: ini tentang cintaku yg tengah memburu di sebuah toko serba ada-menanti seorang perempuan yg kuidamkan).
- tempat hiburan malam (kutipan: Rupanya aku berada aku berada di lokalisasi dunia malam)
- Rumah Sakit Jiwa (kutipan:  Pintu tebal Rumah Sakit Jiwa itu melepaskan tubuhnya ke ujung tumitku).
- Gedung teater (kutipan: langkahku terhenti disebuah gedung teater bercat memudar dan tua).
Gaya bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam Novel Anonymous ini adalah majas perumpamaan, metafora, personifikasi, alegori.
Amanat atau pesan
- membela yang benar
- Menjaga keharmonisan keluarga
- menyayangi orangtua kita bagaimanapun keadaannya

Minggu, 15 Mei 2016

Kajian puisi



11.1 PENGANTAR:
         Dalam kegiatan pembelajaran terdapat kegiatan dan aktivitas belajar dan mengajar yang dilaksanakan oleh siswa dan guru. Untuk mendapatkan hasil pengajaran yang efisien, maka proses pembelajaran harus dilakukan dengan sengaja, sadar dan terorganisir dengan baik, serta dilakukan berdasarkan langkah-langkah yang sistematis.Pengajaran adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menanamkan suatu pelajaran kepada siswa dengan melibatkan unsur-unsur dan komponen yang berhubungan dengan suatu proses pembelajaran. Pengajaran merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran, yang terjadi baik di sekolah maupun pada suatu lingkungan tertentu secara sengaja diarahkan pada kegiatan belajar mengajar.
      Dalam kegiatan pembelajaran terdapat kegiatan dan aktivitas belajar dan mengajar yang dilaksanakan oleh siswa dan guru. Untuk mendapatkan hasil pengajaran yang efisien, maka proses pembelajaran harus dilakukan dengan sengaja, sadar dan terorganisir dengan baik, serta dilakukan berdasarkan langkah-langkah yang sistematis.
3.2 TUJUAN PERKULIAHAN:
Setelah mempelajari pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu:
Memahami langkah-langkah kajian puisi
Memahami teknik-tekni pengajaran puisi


URAIAN MATERI:
Langkah-langkah Memahami Puisi
Langkah-langkah untuk memahami dan menikmati puisi adalah sebagai berikut:
Menyikap judul,memahami makna kata-kata kunci,mengusut rujukan kata ganti,mempelajari konteks penciptaan,nerumuskan makna utuh.

Menyingkap judul
Judul merupakan identitas  atau cap sebuah puisi.Biasanya judul sudah memberikan gambaran isi sebuah puisi itu. Bahkan melalui judul tersebut dapat terbuka makna  yang ada dalam puisi.
Memahami Makna Kata Kunci
Dalam setiap kunci terdapat beberapa kata yang menentukan makna puisi itu. Kata-kata seperti itu dinamakan kata kunci. Kata kunci adalah kata yang sering diulang penyair dalam puisinya,misalnya  kata yang  yang sering diulang penyair dalam puisnya,misalnya  kata yang menunjukan waktu dan tempat, kata –kata yang sengaja diberi  perhatian  khusus oleh penyair dengan memberi garis bawah, mencetak miring,dan sebagainya.
 Makna kata dalam sebuah puisi meliputi makna lugas atau makna leksikal,makna citraan atau makna citraan atau makna imajinasi,dan makna lambang. Jadi untuk memahami puisi,ketiga makna tersebut harus diungkapkan
Makna lugas
Makna lugas adalah sebuah kata, frase, atau kalimat yang maknanya  sesuai dengan makna leksikal atau makna yang terdapat kamus. Dalam pusi-puisi muka ,pada umumnya makna lugas dari kata-kata itu sudah diketahui dengan baik.
Namun ,ada beberapa  kata yang mungkin perlu dicari maknanya di dalam kamus agar makna kata tersebut bisa dipahami dengan baik.
Makna Citraan atau Makna Imajis dalam memilih sebuah kata, seorang penyair tidak hanya bermaksud menyampaikan makna lugas saja. Lebih dari itu,penyair membentuk citraan atau imaji tertentu pada pikiran pembacanya. Makna yang ditimbulkan itu disebut makna citraan atau makna imajis.
Makna Lambang
Penyair seringkali memberi  beban pada kata tertentu melebihi makna yang biasa dikandung makna kata tersebut. Dalam puisi, sebuah kata dapat saja merupakan lambang sebuah kata. Pembaca harus berupaya untuk menyingkapkan makna lambang sebuah kata dalam puisi dengan beberapa kemungkinan yang ada.
Mengusut Rujukan Kata Ganti
Penyair sering menggunakan kata ganti, kata penyapa, atau nama seseorang  dalam puisinya.
Penggunaan kata-kata tersebut sering secara tiba-tiba,tanpa diberi tahu siapa yang dirujuk dengan kata-kata tersebut. Pembaca puisi harus berusaha mengusut rujukan yang dimaksud penyair dengan kata-kata.
Mempelajari konteks Penciptaan
Kadang-kadang untuk memahami puisi tidak cukup hanya dengan membaca apa yang tersurat dalam puisi, tetapi juga perlu mempelajari hal-hal yang berada di luar puisi tersebut. Hal-hal tersebut misalnya penyair, latar belakang penciptaan, situasi kita puisi itu diciptakan , dan sebagainya. Semua itu disebut dengan konteks penciptaan.
Merumuskan Makna Utuh
Makna utuh sebuah puisi adalah makna keseluruhan  dari puisi itu, baik makna tersurat,tersirat, maupun yang berkaitan  denngan konteks penciptaanya.Untuk merumuskan makna utuh dalam sebuah puisi, diperlukan makna lugas, citraan lambang,dan konteks penciptaanya. Untuk merumuskan makna utuh dalam sebuah puisi, diperlukan  makna lugas ,citraan, lambang, dan konteks penciptaan puisi itu. Setelaah itu baru menentukan sikap terhadap makna utuh  atau pengalaman penyair.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999 : 9-10), langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori kondisioning operan adalah sebagai berikut : Kesatu, mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positif atau negatif. Perilaku positif akan diperkuat dan perilaku negatif diperlemah atau dikurangi. Kedua, membuat daftar penguat positif. Guru mencari perilaku yang lebih disukai oleh siswa, perilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat. Ketiga, memilih dan menentukan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya. Keempat, membuat program pembelajaran. Program pembelajaran ini berisi perilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari perilaku, dan evaluasi. Dalam melaksanakan program pembelajaran, guru mencatat perilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. ketidak berhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi perilaku selanjutnya. Dalam proses pembelajaran yang berlangsung, mau tidak mau terdapat kegiatan mengajar yang dilakukan oleh seorang guru. Kegiatan mengajar ini adalah suatu syarat mutlak yang harus dilakukan agar tercapainya tujuan kegiatan pembelajaran secara lengkap. Pengertian mengajar menurut Abdul Kadir Munsyi  (1981 : 13) adalah memberikan ajaran-ajaran berupa ilmu pengetahuan kepada seseorang atau beberapa orang agar mereka dapat memiliki dan memahami ajaran-ajaran tersebut. Sedangkan pengertian mengajar menurut Oemar Hamalik (1992) adalah membimbing kegiatan belajar anak. Menurut Wiliam H. Borton dalam Ahmad Thontowi (1993) mengajar adalah upaya dalam memberi stimulus bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Jerome S. Brunner dalam Moh. Uzer Usman (2001) memberikan pengertian mengajar adalah menyajikan ide, problem, atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa. Moh Uzer Usman juga menambahkan bahwa mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar-mengajar atau dapat dikatakan bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran sehingga menimbulkan proses belajar pada diri siswa. Pengajaran karya sastra puisi sebagai salah satu proses dan teknik pengajaran puisi yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran di sekolah, bertujuan membina apresiasi puisi dan mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam puisi tersebut. Sehingga pembelajaran bahasa Indonesia mendapat dukungan yang efektif dari pengajaran sastra yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Dalam kelas pembelajaran terpadu bahasa Indonesia anak belajar bahasa Indonesia melalui penggunaan bahasa Indonesia, belajar berbagai bentuk keterampilan berbahasa: menyimak, wicara, membaca, dan menulis melalui kegiatan menyimak, wicara, membaca, dan menulis. Demikian juga halnya dengan kegiatan pembelajaran sastra dilakukan langkah-langkah tertentu agar siswa dapat memahami dan menguasai pengetahuan dan keterampilan berkaitan dengan proses belajar sastra khususnya puisi ini. Dalam hal ini terdapat kegiatan seperti membaca puisi, menulis puisi, kajian puisi dan sebagainya. Kata apresiasi (appreciation) mengacu pada pengertian dan pengenalan yang tepat; pertimbangan, penilaian, pernyataan yang memberikan penilaian (Horaby dalam Sayuti, 1985: 203). Pengertian apresiasi tersebut dapat diterapkan dalam sastra. Apresiasi sastra berarti suatu pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra, kegairahan terhadap karya sastra tersebut, serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari berbagai kegiatan itu   Pengertian apresiasi puisi sejalan dengan pengertian di atas. Apresiasi puisi tidak terlepas dari adanya kegiatan untuk mengenal, memahami, menghargai unsur-unsur yang ada di dalam puisi seperti bagaimana persajakannya, iramanya, citraannya, gaya bahasanya, dan apa saja yang dikemukakan lewat karya sastra tersebut. Seluruh unsur-unsur pembangunan puisi baik unsur formal (pola rima, ritma, baris, bait) maupun unsur kualitas (tema, ide, amanat, pengalaman penyair) menjadi objek kajian apresiasi. Jenis-jenis kegiatan apresiasi yaitu mulai dari kegiatan mendekati, memahami, menghayati, menafsirkan, menilai, menghargai, sampai pada kegiatan menikmati puisi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Rizanur Gani (1980 : 6) mengemukakan bahwa pada dasarnya, terdapat tiga komponen dalam mendekati masalah itu, yaitu landas tumpu (Setting), tema, dan bahasa yang digunakan. Ranah kognitif berkaitan erat dengan kemampuan intelektual apresiator dalam mendekati, menghargai, memahami, menafsirkan, serta menilai sebuah puisi. Ranah afektif berkaitan dengan emosi atau perasaan apresiator dalam usahanya untuk menghayati, menikmati unsur keindahan sebuah karya puisi dan muatan makna yang terkandung di dalam sebuah puisi. Ranah psikomotorik berkaitan erat dengan gerakan-gerakan ragawi yang dapat dilihat dengan jelas pada saat sebuah puisi dibaca oleh pembacanya yang disertai  dengan gerakan sebagai ekspresi bahasanya.  Berdasarkan pengertian apresiasi sastra di atas dapat disimpulkan bahwa apresiasi puisi merupakan suatu proses kegiatan mengenal, memahami, menafsirkan, menghayati suatu karya dengan mempergunakan tanggapan emosional dan intelektual yang melibatkan peran ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh kenikmatan, kepahaman, serta penghargaan terhadap suatu karya sastra sehingga perkembangan jiwa serasi. Puisi merupakan bentuk karya sastra yang padat dan penuh arti. Hal ini menuntut pengajaran puisi secara lebih mendalam dan guru bahasa harus dapat menumbuhkan motivasi pada diri siswa agar pembelajaran puisi tersebut tidak membosankan. Rahmanto (1988: 47 ) menyatakan, bahwa hal terpenting dalam pengajaran puisi di kelas adalah menjaga agar suasana tetap santai. Jangan sampai seorang guru atau siswa merasakan awal pelajaran sebagai sesuatu yang menegangkan atau terlalu kaku. Lebih lanjut ia menjelaskan teknik-teknik pengajaran puisi sebagai berikut: 1.Pelacakan pendahuluan Sebelum menyajikan puisi di depan kelas, guru perlu mempelajarinya terlebih dahulu untuk memperoleh pemahaman awal tentang puisi yang akan disajikan sebagai bahan. Pemahaman ini sangat penting terutamam untuk dapat menentukan strategi yang tepat, menentukan aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian khusus dari siswa dan meneliti fakta-fakta yang masih perlu dijelaskan. 2.Penentuan sikap praktis Puisi yang disajikan di depan kelas hendaknya diusahakan tidak terlalu panjang agar dapat dibahas sampai selesai dalam setiap pertemuan. Hendaklah pula ditentukan informasi apa yang seharusnya dapat diberikan oleh guru sastra untuk mempermudah siswa memahami puisi yang disajikan. 3.Introduksi Banyak faktor yang mempengaruhi penyajian ini, termasuk situasi dan kondisi pada saat materi disajikan. Pengantar ini tergantung pada guru, keadaan siswa, dan juga karakteristik puisi yang akan diberikan. 4.Penyajian Guru sebaiknya membaca puisi yang disajikan agar siswa merasa lebih mudah mengenal puisi yang digunakan sebagai bahan pelajaran tersebut. 5.Diskusi Urutan masalah yang dibahas dalam diskusi kelas banyak dipengaruhi oleh imajinasi guru, kekhususan puisi yang dipilih, dan tanggapan siswa di kelas, serta guru harus membimbing para siswa dalam berdiskusi. 6.Pengukuhan Jika puisi mendapat tanggapan yang antusias oleh siswa, guru hendaknya berusaha agar puisi itu semakin mengesankan sehingga menambah cadangan pengalaman siswa yang tidak mudah terlupakan. Dari uraian-uraian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa problematika pengajaran sastra puisi ini adalah permasalahan-permasalahan sustansial dalam kegiatan pengajaran sastra khususnya puisi yang dilakukan di sekolah. Problematika menyangkut banyak faktor yang secara keseluruhan saling berkaitan sehingga menjadi masalah yang harus dipecahkan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang dilakukan tersebut.   Dalam kerangka problematika pengajaran sastra puisi ini, dapat diambil kesimpulan yang berkaitan dengan kemampuan guru dalam penyajikan puisi itu agar dapat dipelajari siswa dengan cara yang lebih menarik. Pengajaran puisi memberikan kerangka moral sejalan dengan nilai-nilai yang akan diajarkan dalam sebuah karya puisi tersebut. Pengajaran secara umum sendiri mempunyai tujuan dalam hal menstransformasi materi yang diajarkan. Karena itu terhadap siswa materi puisi yang akan diajarkan harus mampu disampaikan guru dengan teknik mengajarnya yang sangat sistematis dan terencana.

CATATAN:
Uraian materi berjumlah antara 15 sampai 20 halaman.
Bersumberkan minimal 5 buku sumber.
Harap dilengkapi dengan contoh biar mahasiswa mudah memahami konsep/prosedur/metode